All for Joomla All for Webmasters
Sumatera Utara

Conzep’Tan, Restoran Gaul Instagramable Bernuansa Religi

baguskali.com

Ada yang baru bagi penikmat kuliner dan tempat unik di kota Medan, Sumatra Utara. Bagi pengunjung penyuka tempat selfi sembari berkaraoke sambil menikmati masakan khas Tionghoa tapi halal namun tidak ketinggalan sholatnya, Nah disini tempatnya, Conzep’Tan Resto.

Jimmy Tan (39 tahun), seorang Tionghoa Muslim, melakukan terobosan dalam usaha resto miliknya, Conzep’Tan Resto. Pengunjung tidak hanya menikmati makanan halal, tapi juga one stop service.

Beralamat di Komplek J.City Ruko E.15/16 Jalan Karya Wisata Medan Johor, restoran yang juga menyajikan makanan Eropa (western food) dan tradisional Indonesia itu menawarkan sejumlah fasilitas lain seperti cafe, karaoke dan ruang rapat (meeting room), roof top dan musholla cantik, memanfaatkan tiga lantai dan atap bangunan.

Berbincang baru-baru ini, Jimmy, mengatakan, restoran yang buka awal Oktober lalu itu menyediakan masakan (cuisine) halal lebih sehat dan segar seperti ikan dan lainnya. “Selain menu main course (santapan utama), kita juga sediakan menu-menu kafe di kafe kita di lantai 2 yang juga ada live music. Lantai 3 ada karaoke dan meeting room dan lantai 4 ada musholla dan roof top. Makanannya fresh,” ucapnya.

Banyaknya kafe di kawasan sekitar dan minimnya restoran menurutnya menjadi peluang yang cukup menjanjikan untuk membuka usaha itu. Belum lagi, kawasan Medan Johor memang cukup ramai. “Di J.City lebih cenderung ke kafe. Kalau di sini, keluarga dan rekan yang betul-betul makanan. Apa lagi resto belum ada di sini. Melihat kawasan di Johor ini cukup banyak masyarakatnya, dan untuk cari makan mereka cenderung lebih ke kota. Dengan dibukanya pasar jajanan di daerah Johor ini kita manfaatkan ruko yang ada buka resto,” kata ayah enam anak itu.

Menu ikan, steamboat, nasi ayam, seafood campur dan lain-lain menjadi andalan. Cukup banyak menu makanan dan minuman yang tersedia yang semuanya dijamin lezat. Sebanyak 16 karyawan di antaranya enam orang yang bekerja di dapur termasuk chef dan koki, siap melayani pesanan konsumen dengan harga relatif terjangkau, mulai Rp.20 ribu hingga Rp.200 ribu (untuk lima orang).

Soal penamaan restoran, menurutnya dilakukan lantaran dia bermarga Tan. “Untuk penamaan saya pikir mau buat merek apa. Banyak juga yang tanya mau buat merek apa. Bagi saya, nama harus tahu apa artinya, nama yang tren saja tidak akan bermanfaat. Makanya jadinya itu, yang artinya konsep marga Tan, konsep marga saya,” kata pria yang memeluk Islam tahun 1999 silam.

Bernuansa etnis Tionghoa dengan campuran Arab di resto tersebut, ada 12 meja yang masing-masingnya diperuntukkan bagi empat orang. Jika yang ingin duduk di sofa, atau yang ingin lebih santai, tiga jenis meja tersedia di tempat itu.

Di lantai dua, ada sekitar 20 meja dan balkon bagi yang ingin mendapatkan suasana berbeda. Dilantai 2 ini, bagi pecinta tantangan dapat makan diatas lantai kaca yang tembus pandang kebawah. Sementara ruang rapat di lantai 3 diperuntukkan bagi 20 hingga 25 orang dengan ukuran ruangan 4×9 meter. Untuk ruangan karaoke, ada yang untuk maksimal 15 orang dengan luas ruangan 4×7 meter dan untuk 7 orang. Di lantai atap, sebuah musholla cantik berarsitektur tionghoa-arab juga tersedia.

Menariknya, untuk kubah musholla Al Muallaf Tan, mirip dengan Masjid Cheng Ho di Surabaya, dengan atap pagoda yang di atasnya terdapat satu kubah dan dikelilingi empat kubah lainnya. Musola tersebut bisa menampung sekitar 15 jamaah. Sementara untuk tempat wudhu, antara laki-laki dan perempuan dibuat terpisah. Dari sini kita dapat menikmati J City dari atas ketinggian.

“Saya ingin menandakan kita ini sebagai muslim yang baik, akan membuat tempat yang baik. Dalam usaha yang saya jalani, saya lebih mengutamakan ibadah. Jadi sebelum buat itu kita pikirkan dulu. Karena untuk hidup lebih baik adalah yang hidup dengan agama dan ibadah. Menunjukkan pula bahwa sambil beraktivitas apapun, kita juga harus taat ibadah. Bukan saja hidup dunia yang kita jalani, tapi ada akhirat yang akan kita hadapi,” ucapnya.

Untuk soal keagamaan, Jimmy cukup konsisten. Kendati buka setiap hari, di waktu Jumat, karyawan pria yang ada diwajibkan sholat Jumat di masjid. Jika tidak, akan ada peringatan. Bahkan jika sampai dilakukan dua kali, akan berakhir dengan pemecatan. Jika ada pengunjung yang datang di jam sholat Jumat, pelayan akan memberikan pengertian bahwa petugas dapur masih beribadah. Biasanya kata Jimmy, konsumen mau menunggu.

Di dinding bangunan restonya, pria berambut gondrong dan berjanggut panjang itu juga menuliskan banyak kata-kata bermuatan pesan yang intinya agar dalam kehidupan, harus selaras antara aktivitas dunia dan akhirat. Selain itu, sejumlah mural cantik juga cocok dijadikan lokasi foto yang Instagrammable.

Sabtu dan Minggu, pengunjung juga bisa menyaksikan live music di kafe di lantai 2. Dia ingin, berbagai fasilitas resto bisa membuat konsumen senang, rileks dan menikmati suasananya. Apa lagi, seperti fasilitas karaoke, tidak ada tagihan tambahan bagi konsumen yang makan di tempat itu khusus untuk bulan Oktober ini.

Tapi bulan berikutnya, akan ada tagihan minimum yang diberlakukan bagi pelanggan yang ingin menghabiskan waktu berkaraoke ria dengan rate harga yang cukup terjangkau. “Misalnya saja Rp 1 juta tagihan makanan dan minuman untuk 15 orang saya rasa tidak memberatkan,” kata pria yang berprofesi sebagai kontraktor itu.

Kendati belum sampai sebulan dibuka, respons masyarakat cukup positif kata Jimmy. Promosi melalui media branding, baliho, dan sosial media dia nilai cukup membantu perkembangan usahanya, selain dari mulut ke mulut. “Alhamdulillah pasar lumayan baik. Karena kita mengenalkan makanan fresh halal, masyarakat lebih yakin untuk menikmati makanan di sini,” ucap Suami Lusiana (36 tahun) itu.

Memang, masyarakat khususnya yang beragama Islam cukup banyak yang ingin mencoba masakan Tionghoa. Namun lantaran khawatir tidak halal (haram), risiko makan di tempat yang tidak terjamin membuat masyarakat berpikir kembali. Untuk itu, Jimmy berharap, seiring dengan waktu, pelanggan resto akan semakin banyak.

“Insya Allah lebih baik lebih ramai, bisa memperkenalkan makanan yang mungkin belum banyak dikenal, dan tentunya halal,” pungkasnya.

Komentar Anda

Most Popular

To Top