All for Joomla All for Webmasters
Kabar Timur Tengah

Pemimpin Iran Sebut ‘Musuh-Musuh’ Dari Luar Jadi Penyebab Kerusuhan

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatolah Ali Khamenei menuduh bahwa ‘musuh-musuh’ dari luar yang mendukung demo anti pemerintah yang telah menyebabkan tewasnya 20 orang sejauh ini.

Ini adalah pernyataan terbuka pertama yang disampaikan Khamenei terhadap gelombang protes yang sudah berlangsung selama beberapa hari tersebut.

Petugas keamanan kewalahan menangani unjuk rasa yang dimulai hari Kamis lalu, dan berlangsung di seluruh Iran dalam tindakan menentang kepemimpinan negara tersebut.

Jaringan televisi nasional Iran melaporkan hari Selasa bahwa 9 orang tewas, termasuk dua anggota pasukan keamanan, dalam aksi protes di sebuah provinsi.

Ayatollah Ali Khamenei menuduh elemen musuh asing mendalangi unjuk rasa.

“Dalam beberapa hari terakhir, musuh-musuh Iran menggunakan berbagai sarana termasuk uang, alat, kekuatan intelejen dan politik guna menciptakan kekacauan di Republik ini.” katanya.

Dia tidak menyebut nama musuh tersebut, namun Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi berada di belakang gelombang unjuk rasa.

“Saudi akan menerima jawaban tidak terduga dari Iran dan mereka mengerti betapa seriusnya hal itu nantinya.” kata Shamkhani seperti dikutip oleh Tasmin News dalam wawancara dengan Stasiun Televisi Al Mayadeen di Beirut.

Polisi Iran sudah menahan 450 pengunjuk rasa di Teheran selama tiga hari terakhir, kata kantor berita ILNA mengutip Ali Asghar Nasserbakht, wakil gubernur Teheran bidang keamanan.

Nasserbakht mengatakan 200 pengunjuk rasa ditahan hari Sabtu, 150 orang hari Minggu dan 100 orang hari Senin.

Dia mengatakan situasi di Teheran terkendali dan polisi belum lagi meminta bantuan pasukan khusus Pengawal Revolusi.

Pengunjuk rasa bisa dijatuhi hukuman mati

A man, standing in a cloud of smoke in the street, yells.
Foto ini menunjukkan unjuk rasa di dalam kampus Universitas Teheran yang berhasil diperoleh kantor berita AP.

Unjuk rasa ini dimulai di kota kedua terbesar Iran Mashhad dalam bentuk protes terhadap kenaikan harga, namun dengan cepat berubah menjadi unjuk rasa berbau politik.

Iran adalah salah satu penghasil minyak terbesar di dunia namun warga di dalam negeri frustrasi dengan keadaan ekonomi di dalam negeri.
Para pengunjuk rasa juga menyampaikan kemarahan mengenai keterlibatan Iran dalam perang di Suriah dan Irak.

Kepala Pengadilan Revolusioner Iran telah memperingatkan bahwa para pengunjuk rasa bisa dikenai hukuman mati bila mereka diajukan ke persidangan.

Televisi nasional Iran mengatakan enam perusuh tewas dalam serangan terhadap kantor polisi di kota Qahdarijan.

Dilaporkan bahwa insiden terjadi karena para perusuh ini berusaha mengambil senjata api dari kantor polisi.

Gelombang unjuk rasa ini merupakan yang terburuk sejak tahun 2009 ketika massa turun ke jalan memprotes terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Presiden Iran Hassan Rouhani hari Senin mengelak untuk menerima tanggung jawab atas kemarahan para pengunjuk rasa soal ekonomi, dengan mengatakana masalah Iran disebabkan karena pemerintah terdahulu, dan juga karena musuh lama Iran yaitu Amerika Serikat.

Rouhani yang juga merupakan tokoh pragmatis dan berseberangan dengan para tokoh garis keras lainnya di Iran mengatakan: ‘warga di Iran tidak meminta adanya roti dan air, namun meminta kebebasan lebih besar.”

Pernyataan itu sepertinya mengatakan bahwa pengunjuk rasa bukanlah mencari sasaran pemerintahannya namun terhadap para ulama yang konservatif.

Presiden Amerik Serikat Donald Trump, yang tidak suka dengan rejim Iran, sudah membuat cuitan di Twitter mendukung para pengunjuk rasa.

Dalam reaksinya juru bicara Departemen Luar Negeri Iran Bahram Qasemi mengatakan “dari pada menghabiskan waktu untuk membuat cuitan menyerang negara lain, Trump seharusnya memfokuskan diri pada masalah dalam negeri Amerika.”

Sumber: republika.co.id, australiaplus.com

Komentar Anda

Most Popular

To Top