All for Joomla All for Webmasters
Nasional

Baca, Ternyata Ini Alasan Penolakan Ustadz Abdul Somad Di Hongkong

baguskali.com

Nama ustadz Abdul Somad kembali menjadi perbincangan. Setelah beberapa waktu ditolak di Bali, ustadz berusia 40 tahun ini kembali mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat akan memberikan ceramah di Hong Kong. Ustadz Somad ditolak di Bandara Internasional Hong Kong, Sabtu 23 Desember 2017.

Ustadz mengungkapkan bahwa ia tiba di Hong Kong sekitar pukul 15.00 WIB. Saat keluar dari pesawat yang ditumpanginya, mendadak ia diadang lima sampai enam orang tanpa mengenakan seragam.

“Belum sempat diperiksa di imigrasi, ada 5-6 orang memisahkan saya dari rombongan. Mereka membawa saya ke ruangan,” kata ustadz.

Di ruangan tersebut, ia mengaku digeledah. Dompet dan ponsel miliknya langsung diminta dan diperiksa orang-orang tersebut dengan seksama.

“Dia periksa kartu-kartu, uang saya, lihat hp saya, sampai kertas-kertas kecil dilihat. Ini ada catatan doa untuk jemaah. Biasanya mereka minta doa,” ujarnya.

Ia melanjutkan dari pemeriksaan itu, para oknum tersebut menemukan sebuah kartu nama Rabithah Alawiyah (ikatan Habib). Kartu tersebut yang dipertanyakan orang-orang yang mengadangnya.

Baca juga: Ini Kata Ustadz Abdul Somad Terkait Penolakan di Hongkong

“Mereka lihat ada bintang dan tulisan Arab. Saya menjelaskan,” ujarnya.

Sayangnya, penjelasan ustadz Somad tak mengubah keadaan. Mereka langsung memulangkan ustadz tersebut ke Indonesia.

“Saya minta penjelasan, tetapi mereka tak bisa menjelaskan. Mereka hanya mengatakan bahwa saya tidak diterima di negaranya,” ujarnya.

Memang insiden tersebut terjadi sangat cepat, sehingga Abdul Somad tak sempat menghubungi KJRI di Hong Kong. Ia diperiksa selama 30 menit. Meski masih bingung dengan penolakan yang menimpanya, Somad berusaha pasrah dan berdoa.

“Mungkin mereka termakan isu teroris. Mereka langsung mengantar saya ke pesawat,” ungkapnya.

Ustadz Abdul Somad datang ke Hong Kong bersama dengan kedua rekannya, Nawir dan Ustadz Hidayat. Kedatangan Abdul Somad ke Hong Kong berdasarkan undangan untuk mengisi ceramah dari TKI yang berada di sana. Jika tak terjadi insiden pengusiran, ustadz yang sempat menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Mesir ini, akan memberikan ceramah selama tiga hari.

Kecurigaan pengacara

Penolakan Somad ini langsung menjadi sorotan. Pengacara Abdul Somad, Kapitra Ampera, tak menerima kliennya itu diperlakukan sedemikian rupa. Saat diwawancara di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, tvOne, Senin 25 Desember 2017, Kapitra mengungkapkan bahwa pihaknya akan meminta konfirmasi ke Kedutaan China.

Ia juga meminta pihak Kementerian Luar Negeri untuk lebih melindungi warga negaranya di luar negeri. Dan menambahkan bahwa kejadian seperti ini bukan hanya dialami pihak ustadz Somad, tetapi juga warga negara Indonesia lainnya.

Selain itu, pihaknya juga akan menuntut klarifikasi dari Kementerian Luar Negeri soal pengusiran ustadz Somad. Menurut Kapitra, untuk mendeportasi seseorang itu harus ada kriteria yang jelas.

“Kita akan minta klarifikasi, apa penyebabnya. Kalau tidak ada penyebabnya berarti ada sesuatu,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kapitra menjelaskan pihaknya sangat menghargai kedaulatan sebuah negara, untuk dapat menerima atau menolak seseorang untuk masuk ke negara tersebut.

Meski demikian, pihaknya tak bisa menghilangkan kecurigaan bahwa ada sesuatu di balik pengusiran ustadz Somad.

“Mengusir orang bukan hal yang sederhana. Saya berpikir ada alasan-alasan lain, kenapa dideportasi begitu cepat sehingga Konjen tidak memiliki kesempatan mendampingi,” ujarnya.

“Apakah ini ada order dari Indonesia sehingga ustadz dipermalukan, dianiaya secara verbal,” tambahnya.

Untuk itu, pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia akan mendalami dan menelusuri kasus ini. Ia merasa sikap arogansi otoritas Hong Kong tak memiliki alasan yang jelas.

Selain itu, kata Kapitra, pihaknya juga akan mengadukan persoalan ini ke DPR RI dan instansi terkait lain. Dia curiga justru ada campur tangan pemerintah di balik peristiwa memilukan itu.

“Kami akan melakukan protes keras kepada pemerintah RI dan pemerintah China atas perlakuan terhadap seorang guru agama yang dikagumi oleh rakyat Indonesia. Kami akan melaporkan ini kepada DPR dan instansi lainnya agar pemerintah Indonesia serius melindungi warganya yang melakukan kunjungan ke luar negeri,” kata Kapitra.

Sumber: viva.co.id

Komentar Anda

Most Popular

To Top