All for Joomla All for Webmasters
Nasional

Persekusi, Ini Tips Cara Menghindarinya

baguskali.com

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan membaca istilah Persekusi dari media elektronik, cetak. Begitu juga di lini media sosial banyak sekali akun yang membuat status yang berkaitan dengan Persekusi. Sebenarnya apa pengertian Persekusi ?

Pengertian Persekusi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pengertian per·se·ku·si /pérsekusi/ v adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas;

mer·se·ku·si/memersekusi/v adalah menyiksa, menganiaya: tanpa memikirkan lagi keadilan atau kemanusiaan, mereka

Bolehkah Melakukan Persekusi?

Tindakan persekusi ini sangat tidak diperbolehkan, karena ini sama saja dengan main hakim sendiri. Apabila kamu melakukannya, justru kamu dinilai sebagai seorang yang telah melanggar hukum di Indonesia. Contohnya apabila kamu melakukan presekusi dengan sebuah ancaman, penganiayaan sampai dengan pengeroyokan, maka pelaku atau kelompok yang melakukan presekusi dapat dikenakan pasal-pasal dalam KUHP.

Seperti Pasal 368 tentang pengancaman, Pasal 351 tentang penganiayaan dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Sebenarnya, jika memang orang tersebut melakukan pencemaran nama baik melalui media sosial, kamu dapat melaporkannya dengan Pasal 27 Ayat 3 UU ITE.

Selain itu, postingan seseorang di media sosial yang dapat menyebabkan permusuhan dan kebencian (SARA), kamu dapat melaporkannya dengan Pasal 28 Ayat 2 UU ITE.

Koordinator Regional SAFEnet, Damar Juniarto mengungkapkan kasus persekusi yang dialami Mario bukanlah yang pertama kalinya terjadi. Selama 2017, pihak mereka menemukan sekitar 60 kasus serupa.

“Tindakan persekusi itu dilakukan secara sistematis dan terencana, sedangkan perundungan (biasanya) lebih bersifat spontan belaka,” Psikolog dari Pusat Informasi dan Rumah Konsultasi Tiga Generasi, Anna Margaretha Dauhan berpendapat.

Anna kemudian membagi beberapa cara untuk menghindari tindak persekusi yaitu:

1. Bersikap kritis
“Ada baiknya mengevaluasi apakah nilai maupun pandangan yang kita anut selama ini mengarah pada sikap eksklusif (merasa paling benar) dan menilai orang lain yang berbeda pandangan berarti kurang berharga atau salah sehingga perlu dibasmi. Renungkan kembali bahwa perbedaan akan selalu ada dan setiap manusia adalah berharga,” Anna menukas.

2. Memperbanyak kontak sosial
Memperbanyak dialog dan pergaulan dengan kelompok yang memiliki pandangan berbeda. “Makin banyak memahami sudut pandang pihak lain, makin berkurang sikap negatif atau permusuhan yang timbul. Kita pun semakin belajar bertoleransi dan menghargai perbedaan yang ada,” Anna menyimpulkan.

3. Menjaga perkataan
Mulutmu harimaumu. Ucapan yang salah, lalu menyinggung kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda dapat memantik kemarahan. Hindari juga bergurau dengan membawa isu SARA atau pandangan politik.

4. Hindari sikap defensif dan reakif
Jika ada komentar atau perilaku negatif yang ditujukan pada diri atau kelompok kita, pahami dulu masalahnya. Hadapi dengan kepala dingin. Jangan langsung reaktif, membalas untuk mempertahankan ideologi. “Dikhawatirkan, reaksi yang kita lancarkan justru menyebabkan suasana makin panas. Lakukanlah evaluasi, carilah tanggapan yang paling tepat, serta solusi terbaik bagi semua pihak,” tutup Anna.

Diolah dari berbagai sumber

Komentar Anda

Most Popular

To Top