All for Joomla All for Webmasters
Nasional

Menuju Indonesia Bebas Campak Dan Rubella, Kemenkes Gelar Vaksinasi

baguskali.com

Pemerintah menabuh genderang perang terhadap penyakit campak dan rubela. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek Rabu (19/7) mengumumkan bahwa vaksin measles rubella (MR) masuk dalam deretan vaksin wajib. Artinya, semua anak Indonesia harus mendapatkan vaksin itu tanpa terkecuali demi membebaskan Indonesia dari belenggu penyakit campak dan rubela.

Masuknya vaksin MR dalam deretan vaksin wajib menjadi babak baru dalam dunia kesehatan tanah air. Vaksin tersebut termasuk mahal. Untuk sekali imunisasi, biayanya Rp 350 ribu. Karena itu, bagi anak-anak di Jawa saja, dibutuhkan anggaran Rp 740 miliar. Vaksinasi MR di Jawa akan dilakukan serentak mulai Agustus sampai September nanti. ’’Ini masih sebagian (diberikan). Tapi, kami akan maju terus,’’ kata Nila.

Selain MR, sebenarnya vaksin HPV yang dibutuhkan untuk mencegah kanker serviks dan mulut rahim juga mendesak diberikan. Karena keterbatasan anggaran dan skala prioritas, MR diberikan lebih dulu untuk melengkapi vaksin BCG, DPT, TT, polio, campak, hepatitis B, influenza, dan meningitis yang lebih dulu diwajibkan.

Menurut Nila, rubela sebenarnya tidak akan sampai membahayakan nyawa. Namun, dampak yang ditimbulkan berupa kecacatan. Pada anak-anak, dampaknya bisa berupa katarak yang bisa berujung pada kebutaan. Tidak jarang pula bayi lahir dalam kondisi katarak karena ibunya terjangkit rubela. Rubela juga bisa mengakibatkan ketulian pada bayi.

Dengan vaksin MR, Nila yakin persebaran virus rubela bisa dibendung. Dengan demikian, ke depan kasus bayi lahir dalam kondisi katarak atau tuli bisa semakin menurun.

Bagaimana dengan anak-anak yang telanjur terkena rubela atau dampak virus tersebut? Nila mengaku tidak banyak opsi yang bisa dilakukan. ’’Kalau katarak, kami upayakan operasi sebelum usianya mencapai tiga bulan,’’ lanjut spesialis mata itu. Sebab, operasi bisa lebih sulit bila bayi sudah berusia lebih dari tiga bulan.

Yang membuat repot justru dampak setelah operasi katarak itu. Mau tidak mau, bayi yang telah dioperasi katarak harus memakai kacamata sebagai alat bantu penglihatan.

Direktur Surveilans, Imunisasi, Karantina, dan Kesehatan Matra Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi menuturkan, kampanye vaksin MR di Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan di Jawa pada Agustus hingga September nanti.

Tahap kedua dilakukan tahun depan pada bulan yang sama yang akan menyasar anak-anak di luar Jawa. Selanjutnya, vaksin MR diberikan secara berkelanjutan untuk anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas I sekolah dasar (SD). ’’Memang, sasarannya adalah anak usia 9 bulan hingga 15 tahun,’’ kata Jane.

Mengapa demikian? Sebab, anak memiliki kekebalan tubuh yang rendah jika dibandingkan dengan orang dewasa.

Jane menambahkan, virus rubela hanya bisa hidup di tubuh manusia. ’’Kalau manusianya sudah punya antibodi, virusnya tidak memiliki inang. Lama-lama akan punah,’’ jelasnya.

Pada Agustus mendatang, pemerintah berfokus memberikan vaksin MR untuk anak sekolah. Sebab, pada bulan yang sama akan diberikan vitamin A. Lalu, untuk mereka yang tidak bersekolah, misalnya anak jalanan, vaksinasi dilakukan pada September mendatang. ’’Nanti puskesmas hingga pustu wajib mencari anak-anak yang belum tervaksin MR pada bulan September,’’ beber Jane.

Hingga tahun depan, pemerintah menargetkan 95 persen anak di Indonesia mendapat vaksin MR. Dengan demikian, herd community akan tercapai karena sebagian besar anak tervaksin. ’’Yang 5 persen diharapkan juga bisa terlindungi,’’ ujarnya.

Program imunisasi di Indonesia dimulai pada 1956. Vaksin-vaksin untuk mencegah beberapa penyakit lain dilakukan pada tahun-tahun setelahnya. Hingga terakhir pada tahun lalu, masyarakat dikenalkan dengan vaksin inactivated polio vaccine (IPV) alias vaksin polio suntik.

Menurut catatan Kementerian Kesehatan, vaksin yang diberikan sejak 1950 itu mampu menghilangkan beberapa penyakit. Setelah 24 tahun sejak pemberian vaksin cacar pertama, penyakit tersebut dinyatakan hilang. Hingga akhirnya pada 1980 pemberian imunisasi cacar tidak dimasukkan lagi oleh pemerintah.

Polio juga sudah dinyatakan tidak ada sejak pemerintah mendapat setifikat bebas polio pada 27 Maret 2014. Meski sebenarnya kasus polio tidak lagi dijumpai sejak 2006.

Khusus untuk vaksin MR, Indonesia terbilang terlambat jika dibandingkan dengan Malaysia. Di sana, vaksin tersebut sudah lama ditetapkan sebagai bagian dari vaksin wajib yang pemberiannya terjadwal. Dilansir dari situs kempas.malaysia.gov.my, vaksin dengan jenis berbeda diberikan hampir setiap bulan, mulai lahir hingga menginjak usia 15 tahun.

Dalam jadwal pemberian vaksin yang diwajibkan Kementerian Kesehatan Malaysia, bayi yang baru lahir diberi vaksin BCG atau bacillus CalmetteGuerin (vaksin tuberkulosis) dan hepatitis B dosis pertama. Sementara itu, dosis kedua diberikan saat bayi memasuki usia sebulan.

Pada bulan kedua, bayi diberi dosis pertama dari vaksin DTaP untuk mencegah difteri, pertusis, dan tetanus; vaksin IPV untuk mencegah polio; serta vaksin Hib. Dosis kedua vaksin itu diberikan pada bulan berikutnya dan dosis ketiga diberikan saat bayi berusia 5 bulan.

Sementara itu, untuk vaksin MMR (mumps, measles, rubella), dosis pertama diberikan saat bayi memasuki usia 1 tahun atau 12 bulan. Bersamaan dengan vaksin enchepalitis atau peradangan otak. Dosis kedua diberikan pada usia 7 tahun.

Nepal dan Maladewa merupakan negara yang mampu mengeliminasi campak dan rubela. Negara tersebut memang sudah menerapkan pemberian vaksin rubela sejak beberapa tahun silam.

Sumber : jawapos.com

Komentar Anda

Most Popular

To Top