All for Joomla All for Webmasters
Islami

Hukum Memuji Dan Gila Pujian

baguskali.com

Pujian adalah bentuk penghargaan kita kepada orang lain dengan mengapresiasi karyanya baik dalam bentuk sanjungan, pemberian hadiah, atau perlakuan spesial lainnya. Dalam banyak teori motivasi yang berkembang seperti teori yang dikemukakan Abraham Maslow bahwa memberikan pujian dapat menjadi dorongan positif kepada seorang untuk bekerja lebih keras. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin perusahaan memberikan pujian kepada bawahannya untuk meningkatkan produktivitas bawahannya. Tapi benarkah pujian akan selalu dapat memberikan dampak positif bagi seseorang?

Memuji Orang Lain di Hadapannya Sama dengan Menyembelihnya

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan BAHWA ADA SEORANG PRIA YANG DISEBUTKAN DIHADAPAN RASULULLAH SAW, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda:

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan].

Abu Musa berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

أهْلَكْتُم- أو قطعتم ظهرَ – الرجل

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(Shahih): [Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 54-Bab Maa Yukrohu Minat Tamaduh. Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 67].

Muhammad bin Yahya Az-Zihli (guru Imam Bukhari) berkata:

يعني إذا قبلها

(Hal itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya.”

Menyiramkan (pasir) ke Wajah Orang–orang  yang Suka Memuji

Dari Abu Ma’mar, ia berkata, “Ada seorang pria berdiri memuji salah seorang gubernur. Miqdad [ibnul Aswad] lalu menyiramkan pasir ke wajahnya dan berkata,

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نحثي في وجوه المداحين التراب

“Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji.” (Shahih) Ash Shahihah (912), [Muslim: 53-Kitab Az Zuhd, hal. 68]

Dari Atha’ ibnu Abi Rabah bahwa ada seorang pria memuji orang lain di hadapan Ibnu Umar. Ibnu Umar lalu menyiramkan pasir pada mulutnya dan berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا رأيتم المداحين، فاحثوا في وجوههم التراب

Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji maka siramkanlah pasir ke wajahnya .”(Shahih) Ash Shahihah (912).

Kehati-hatian Rasulullah dalam memberikan pujian tentunya beralasan, pujian dapat menjadi racun bagi hati seseorang dan menjauhkannya dari keikhlasan. Ketika hati kita mulai gandrung akan pujian, maka setiap amal yang kita lakukan hanya akan menjadi amalan sia-sia, amalan riya’ yang bukannya diniatkan untuk Allah tapi untuk memperoleh pujian orang lain. Shalat yang biasanya dilakukan dalam waktu 5 menit, mendadak menjadi sangat khusyuk dan lama ketika shalat kita dilihat orang lain merupakan contoh sederhana bagaimana riya’ dapat merusak ibadah kita. Dampak negatif dari pujian secara umum ada 2 yaitu menjadikan kita riya’ dan sombong. Riya’ akan membuat ibadah-ibadah kita tertolak dan menghilangkan keberkahannya sedangkan kesombongan akan menjerumuskan kita ke neraka.

Jangan Tertipu dengan Pujian Orang Lain

Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah).

Doa yang Diucapkan Ketika Dipuji Orang Lain

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah)

Selalu Raih Ikhlas dan Jangan Cari Muka (Cari Pujian)

Abul Qosim juga mengatakan, “Ikhlas adalah membersihkan amalan dari komentar manusia.”

Dzun Nuun menyebutkan 3 tanda ikhlas:

1. Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.

2. Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.

3. Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

(Lihat At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, An Nawawi, hal. 50-51, Maktabah Ibnu ‘Abbas, cetakan pertama, tahun 1426 H)

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari bahaya pujian:

1. Sadar bahwa semua pujian hanyalah milik Allah

Di ayat pertama surat Al Fatihah sudah jelas disebutkan “Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam”. Maka segala pujian itu selayaknya hanya untuk Allah. Sehingga, ketika kita menerima pujian, maka kita bersegeralah mengingat Allah dan mengembalikan pujian itu kepada Allah.

A: “Anak ibu pintar sekali ya, bisa masuk PTN terkenal!”

Jawaban orang yang sombong

B: “Habis gimana ya, kecerdasan kan memang turun dari orang tuanya”

Jawaban orang yang ikhlas

C: “ Alhamdulillah, Allahlah yang mengkaruniakan kami dengan anak yang cerdas”

2. Sadar bahwa kita dipuji karena Allah masih berkenan menutupi aib, dosa, kejelekan, dan kekurangan kita

Jika kita sering bermuhasabah, merenungi akan lebih berat mana kebaikan atau dosa yang kita lakukan maka kita akan terhindar dari bahaya pujian. Karena sesungguhnya, orang yang memuji kita itu hanya tahu sedikit dari pribadi kita yang sesungguhnya, Allahlah yang maha tahu aib kita, dosa-dosa kita, kejelekan, dan kekurangan kita. Jika Allah tidak maha baik untuk menutupi aib-aib kita niscaya bukanlah pujian yang akan kita dapatkan tapi malah cercaan dan dijauhi oleh orang lain. Mencoba untuk sering mengulang pertanyaan pada diri sendiri tentang siapa yang menciptakan kita?, Siapa yang menjamin rezeki kita? Siapa yang memberikan kemuliaan?, Siapa sang pemilik surga?, juga akan membantu kita menghindari sikap gila pujian.

3. Hanya berharap pada pujian Allah

Ketika manusia makin ingin dipuji, makin ingin dihargai, makin ingin dihormati, maka makin ia sering sakit hati. Maka agar kita tak mudah sakit hati, hanyalah berharap pada Tuhan Yang Maha Memberi.

Memuji dengan kadar yang pas dapat menjadi sebuah motivasi yang baik bagi sesorang, namun ketika diberikan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan tempatnya pujian dapat menjadi racun bagi hati. Berhati-hati ketika menerima pujian dan segera mengingat kepada Allah adalah perbuatan bijak yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya pujian.

Sumber : – rumaysho.com

                  – dakwatuna.com

Komentar Anda

Most Popular

To Top