All for Joomla All for Webmasters
Internasional

Tragedi Syria, Tragedi Kemanusiaan Yang Terlupakan

deras.co.id

MUNGKIN Syria(Suriah), salah satu negara Islam yang terletak di Timur Tengah, yang karena letaknya terlalu jauh dari Indonesia, membuat kita di sini tak terlalu memperlihatkan kepeduliannya. Perbedaan waktu dengan Jakarta saja, sekitar 4 jam. Sehingga tidak semua orang Jakarta apalagi Indonesia yang peduli dan cukup melek dengan apa yang terjadi pada rakyat Syria.

Begitu rendahnya tingkat kepedulian kita, sampai-sampai negara adidaya seperti Amerika Serikat (AS) minggu lalu sudah menghujani kota Homs dengan roket Tomhawk dengan 59 hulu ledak, tak membuat bangsa Indonesia tergerak ataupun tersentuh.

Serangan itu pasti menimbulkan korban di kalangan rakyat sipil. Namun karena kerusakannya tidak diberitakan oleh media, membuat kita hanya berpaku diam. Tidak ada rasa pilu. Serangan AS tersebut apapun alasannya, merupakan sebuah pelanggaran kedaulatan atas sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.

Semestinya pemerintah Indonesia melakukan protes.  Dubes kita di PBB, New York, harus protes. Jangan hanya Dubes AS di PBB Niki Haley yang terus-terusan berusara atau membela diri.

Kalau tidak berani protes, minimal lakukan aksi boikot. Bentuknya terserah. Yang penting tunjukan kepada dunia, bahwa Indonesia masih eksis di bumi Nusantara dan tetap peduli dengan masalah kemanusiaan.

Jika terhadap Syria, AS bisa berbuat seenaknya seperti itu,  bukan mustahil hal serupa juga bisa dilakukannya pada Indonesia.  Lalu siapa yang akan peduli pada kita, jika kita tidak pernah memperlihatkan kepeduliannya terhadap nasib bangsa lain?

Baca juga : Serangan Udara Suriah Tewaskan 18 Orang, 5 Korban Anak-Anak

Jangan lupa, soal campur tangan dengan kekerasan AS  seperti di Syria  ini, bukan baru kali ini dilakukan oleh negara adidaya tersebut. Kita semua sibuk dengan kepentingan kelompok dan diri sendiri. Yang koruptor terus saja menikmati hasil korupsinya, para politisi busuk tetap saja dengan jargon-jargon yang membohongi masyarakat. Dan yang tidak tahu apa-apa makin dirasuki dengan paham-paham yang menyesatkan.

Sesungguhnya apa yang dialami bangsa Syria saat ini, sudah sama dengan kehidupan di kiamat. Yah, kita semua  memang kita tidak tahu bagaimana persisnya bentuk dari sebuah alam kiamat. Tapi kalau penderitaan yang diajarkan di kitab-kita suci – agama manapun, yang dijadikan ukuran, penderitaan yang dialami bangsa Syria, sudah seperti itu.
Di sekeliling Syria hanya ada api dan kematian. Tak ada kesejukan apalagi janji adanya sebuah nirwana.

Bagaimana tidak, dalam Perang Saudara selama 4 tahun, yang  terbunuh sudah mencapai 450 ribu  Jumlah itu bagi Indonesia yang berpenduduk 250 juta jiwa, bukanlah angka yang signifikan. 

Tapi coba bayangkan mayat-mayat yang meninggal akibat ledakan bom yang bertebaran di sebuah pemukiman.  Atau sebuah kuburan massal yang menyediakan liang lahat sebanyak 450 ribu lobang. Kalau kesadaran anda sebagai manusia tidak tersentuh, itu berarti moral anda sudah mati.

Selain yang meninggal ratusan ribu, terdapat 6 juta pengungsi yang berpotensi meninggal karena kesulitan hidup. Jumlah pengungsi itu hampir seperempat dari total penduduk penduduk Syria, 22 juta jiwa.

Kalau kita boleh bermain angka, jika jumlah pengungsi  itu diambil dari sebuah desa terpadat di Pulau Jawa, berapa banyak desa yang tiba-tiba kosong? Jumlah itu sama dengan jumlah TKI yang bekerja di luar negeri.

Sisi tragis dari pengungsi Syria antara lain terletak pada ketersediaan negara yang bersedia menampung atau membantu mereka. Negara tetangga sekitar Syria, tak kuat lagi menampung pengungsi. Sebab selain Syria, masih ada pengungsi dari Palestina yang juga berdiaspora di kawasan Timur Tengah.

Begitu pula negara Arab yang kaya minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar, bersikap alergi terhadap pengungsi dari negara Arab  miskin itu. Negara Arab kaya itu sebetulnya cukup dekat dengan Syria. Namun sejajar dengan sikap itu, pengungsi Syria pun lebih suka mengungsi ke Eropa Barat walau resiko kematian juga tak kalah besarnya..

Tahun lalu terjadi eksodus besar-besaran dari Syria. Para pengungsi memutuskan berjalan kaki menuju Eropa. Mereka berjalan sepanjang ribuan kilometer dengan resiko bisa mati konyol di tengah jalan.  Sebab sepanjang perjalanan itu, mereka tidak punya persediaan makan dan minum maupun  obat-obatan.

Pemandangan dari udara atas eksodus rakyat Syria ini, dalam bentuk foto dan video berwarna, sangat indah. Kontras dengan kehidupan sesungguhnya dari para pengungsi itu sendiri. Sebab sesungguhnya jauh di balik hati mereka yang dalam, mereka terus menangis. Memikul beban yang lebih berat dari timbangannya. Ada yang menggendong bayi dan anak kecil atau memapah orangtua rentah yang sakit-sakitan.

Kesimpulan sementara saya sederhana : kita telah mengabaikan saudara-saudara kita yang ada di Syria. Saya sebut saudara, sebab bangsa Syria juga mirip dengan Indonesia. Bangsa Arab yang majemuk baik dari segi agama maupun etnis.

Kita mengabaikan Syria, mungkin karena rakyat Jakarta terlalu fokus dan sangat peduli pada Pilkada 2017. Kita lebih tertarik pada persoalan politik, kekuasaan atau hal-hal sejenis dengan pemilihan calon pemimpin atau penguasa.

Jangan lupa, Perang Saudara di Syria, sesungguhnya terjadi karena soal perebutan status siapa yang layak jadi pemimpin dan atau penguasa.

Sumber : rmol.co

Komentar Anda

Most Popular

To Top